Kembali, Nasib Melas Menimpa Peneliti Mobil Listrik

Motokars.com – Mobil listrik kembali menjadi sebuah kabar hangat, sejak kabar tahun lalu tentang Ricky Elson sang penemu Mobil Listrik bernama Selo, yang ditolak mentah-mentah oleh negeri ini, dan akhirnya penelitian tersebut diakusisi tetangga kita. Kali ini, nasib mobil listrik terbaru kita lebih mentah daripada itu.

Bukan hanya ditolak, penelitinya pun divonis penjara 7 tahun dan didenda sebanyak 17 Miliar. Pidana kriminal atau kriminalisasi?

mavokbeut

“Kasus ini bermula dari permintaan Kementrian BUMN yang saat itu dipimpin oleh Dahlan Ishkan untuk mendukung kegiatan Konferensi APEC yang diselenggarakan di Bali pada tahun 2013 silam. Kementrian meminta PT Sarimas Ahmadi Pratama untuk membuatkan 16 mobil listrik pada bulan April 2013. Dan selama kurun waktu 6 bulan, Dasep harus membuat mobil tersebut hingga bisa digunakan.

Sayangnya, waktu yang begitu singkat terbatas membuat Dasep hanya bisa membuat 8 buah mobil dan bus listrik saja dan masih jauh dari kata sempurna. Menurut hasil investigasi, mobil karya Dasep akan overheat ketika digunakan lebih dari 70-80 km/jam dan tidak lolos uji emisi. Harga dari satu buah mobil prototype yang dibuat memakan biaya sekitar 2 miliar Rupiah perunit. Menurut kami, ini adalah harga yang sangat murah untuk sebuah prototype.”

..dan ketika unit yang terbilang masih sebagai prototype tersebut masih menemui masalah yang masih dalam batas kewajaran sebagai sebuah prototype, agaknya beberapa pihak nampak terburu-buru membawanya sebagai perkara hukum. Entah berdasar kebenaran atau kepentingan politis semata.

Yang jelas, dua kasus mobil listrik yang berturut-turut, dan disertai alasan yang tidak logis ini, jelas menodai citra Indonesia yang dibayangkan sebagai negara yang “welcome” terhadap kreativitas anak bangsa. Akankah kita kehilangan sosok seperti Ricky Elson kedua kalinya, yakni Pak Dasep?

//cobaltriz
kutipan diambil dari autonetmagz.com